Dibawah ini saya dokumentasikan tulisan dari Pak Ma’rufin Sudibyo, salah satu pakar fisika Indonesia yang menjelaskan mengenai kronologi kecelakaan pada PLTN Chernobyl. Tulisan ini saya dapatkan dari milis Fisika Indonesia yang diposting beliau bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008. Mudah mudahan bermanfaat dan menambah pengetahuan anda.

Kecelakaan nuklir Chernobyl itu sejajar dengan kasus lumpur panas sumur Banjar Panji-1 di Porong Sidoarjo.Yakni sama2 berangkat dari tujuan baik (pada Chernobyl berpangkal dari eksperimen pembangkitan daya darurat, pada Banjar Panji-1 untuk mencari migas), namun dilaksanakan tanpa mematuhi prosedur standar (pada Chernobyl semua prosedur standar keamanan operasi reaktor dilanggar, pada Banjar Panji-1 ngebornya ugal2an dan ngeyel). Akhirnya terjadilah bencana. Andaikata dua operator reaktor unit 4 PLTN Chernobyl tidak nekat melanjutkan eksperimennya pada 26 April 1986 lepas tengah malam, barangkali tragedi takkan pernah terjadi. Namun tragedi itu juga membuka mata dunia akan persoalan cacat desain reaktor dan manajemen pembangkit yang “ajaib” di eks-Uni Soviet.

Sebelum tragedi April 1986 PLTN Chernobyl hanyalah kompleks pembangkit tak terlalu dikenal di Ukraina, bahkan juga di kalangan petugas pemadam kebakaran setempat (yang akhirnya justru menjadi korban pertamanya). PLTN ini berlokasi di koordinat 51,3872 LU 30,1114 BT, berdekatan dengan perbatasan Belarus. Terdapat 4 unit reaktor : reaktor unit 1 mulai beroperasi pada 1977, reaktor unit 2 pada 1978, reaktor unit 3 pada 1981 dan reaktor unit 4 pada 1983. Keseluruhan unit menghasilkan daya 4.000 MWe yang menyuplai 10 % kebutuhan listrik Ukraina.

(lebih…)

Dr. Patrick Moore, salah satu pendiri greenpeace, organisasi penentang PLTN, menyadari pentingnya nuclear energy dalam memenuhi kebutuhan listrik dan untuk mengurangi emisi CO2 ke atmosfe.

PART 1

PART2

(lebih…)

Salah satu pendiri Greenpeace, Dr. Patrick Moore, berbicara tentang nuclear power yang dikaitkan dengan rendahnya emisi CO2 ke atmosfer.

Coba lihat pada menit 08:59, kayaknya kenal deh 🙂

Video selanjutnya : PLTN + Energy terbarukan VS Fosil fueled Power 😛

Berikut adalah tanggapan saya dari tulisan pada blog JePITS yang diposting pada tanggal 9 November 2007 yang lalu yang bertajuk : MENGONTROL KEBIJAKAN NEGARA MELALUI PLTN.

Oleh : Harispebe*
*staf pengajar di Poltek Malang

Awalnya, saya kurang interest dengan rencana pembangunan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di Indonesia yang sedianya akan didirikan di Gunung Muria, Jawa Tengah. Hanya saja, saya teringat diskusi saya dengan Izzuddin bahwa potensi energi terbarukan di Indonesia yang meliputi air, angin, dan sinar surya melebihi dari sumber energi di Indonesia yang kita gunakan saat ini. Bahkan, potensi angin yang ada juga lebih besar daripada potensi angin yang berada di negeri kincir angin, Belanda.

Latar Belakang

John Perkins, dalam pengakuan Bandit Ekonominya menyebutkan bahwa dirinya diutus ke Negara-negara dunia ketiga guna mengemban misi ekonomi yaitu memastikan agar korporasi yang mengutusnya bisa leluasa menghisap sumber-sumber ekonomi dari dunia ketiga. Dalam job description- nya, dia bertugas untuk memastikan ketersediaan energi bagi indstri-industri, memainkan angka-angka indikator kesejahteraan untuk menarik minat investor dan terakhir adalah ikut dalam pembangunan di dunia ketiga.

Salah satu mega proyek dari bandit ekonomi ini adalah PLTU Paiton. PLTU ini menggunakan teknologi dengan biaya operasional yang tinggi. Sebagai gambaran, harga jual listrik yang dihasilkan oleh Paiton 30% lebih tinggi dari pada pembangkit listrik yang sama di Taiwan yang juga menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.

(lebih…)

Berikut adalah tanggapan saya atas tulisan pada blog Mas Ronny . Tanggapan saya berwarna biru.

Terima kasih Mas Ronny senang sekali bisa berdiskusi dengan mas. Saya coba menanggapi pertanyaan/pernyataan mas satu-persatu ya.

Mengenai Senjata Nuke dan PLTN, jujur ya… saya ga ngerti soal senjata nuke yang digunakan oleh pemerintah RI (itupun bilamana ada,) karena setahu saya, Indonesia tidak memiliki SDM yang mampu mengelola senjata Nuke tersebut. dan saya percaya 100% bahwa RI tidak akan pernah mencoba untuk menciptakan Nuke

Paragraf pertama tulisan mas mengetengahkan masalah bom atom Hiroshima & Nagasaki. Jadi saya hanya memberikan info saja dalam kaitan dengan rencana Indonesia menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai. Alasannya bukan karena tidak punya SDM mas, bisa saja kalau mau, tetapi sifat kita yang cinta damai. Makanya kita pada tahun 68 menandatangani perjanjian NPT. Silakan baca ini : NPT

Back to PLTN, dari awal (maaf ya) saya tidak mendukung PLTN, kenapa? kembali saya tanyakan kepada semua pembaca… mengapa harus PLTN? apakah dengan melihat dari murahnya cost menjadi pertimbangan dari resiko yang ditimbulkan terhadap alam negara kita?

(lebih…)

Berikut adalah tanggapan saya dalam blog Pak De Suryokotjo “relawandesa” yang memberitakan PLTN dipaksakan?

Ikut sumbang pendapat ya tentang PLTN. Sebenarnya kalau kita mau jujur, pemilihan PLTN tidak dipaksakan. Studinya sudah lama sekali dilakukan mulai tahun 1972. Nuklir sudah harusnya masuk sebagai penyokong energi Indonesia bersama dengan pengembangan energi lainnya, seperti solar, wind and biomass. Mengapa ini sangat penting, karena cadangan dan produksi oil, gas and coal kita sudah sangat menipis dan cenderung menurun, padahal disisi lain demand akan terus naik. Berdasarkan PP No 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, nuklir diarahkan untuk berkontribusi sebanyak 2 % saja pada tahun 2025, sementara Geothermal 5 %. Kalau persiapannya selalu saja mundur, maka yang dirugikan sebenarnya rakyat Indonesia juga, karena pasokan energi tidak terpenuhi dimasa yang akan datang. Perlu persiapan sekarang-sekarang ini karena pembangunan PLTN berkisar 6-8 tahun hingga akhirnya menghasilkan listrik.

Untuk bahan bakar nuklir (BBN), pada tahap awal kita tidak memproduksinya didalam negeri, karena jika kita memilih teknologi PWR yang sudah banyak dimiliki oleh negara-negara didunia, membutuhkan enrichment uranium facilities yang biaya pembangunannya lebih besar dari bangun PLTN. Jadi kita beli BBN dari negara-negara pensuplay uranium seperti tetangga kita, Australia dengan sistem long-term contract pada kesepakatan harga tertentu. Nah yang menarik dalam industri nuklir, kenaikan bahan bakar hingga 50% hanya mempengaruhi biaya pembangkitan sebesar 3 % sedangkan untuk PLTU dan PLTG masing masing terpengaruh 21 % dan 38 %. Artinya dari segi kenaikan/ekskalasi bahan bakar, PLTN lebih stabil (studi OECD/IEA 2006). Mengapa ini bisa terjadi? Karena menurut hitung-hitungan matematis, energi 1 gram uranium = energi 3 ton batubara, dan asupan bahan bakar pada sebuah reaktor nuklir itu berlangsung 18-24 bulan setelah asupan sebelumnya, tidak setiap hari seperti PLTU.

(lebih…)